|
In The Name Of Allah Friday, September 03, 2010 |
|
|
Search |
|
|
Loading |
|
|
Nilai Pertanyaan : Tanggal Posting : Wednesday, July 22, 2009Tanggal Menjawab : Wednesday, July 22, 2009 Nama : - Data Pribadi Pengirim Negara : - Pilih Kategori : Irfan --> Irfan Teoritis Nama Penjawab : The Porch of Wisdom Institute Kirim kepada Teman Anda Apa yang menjadi latar belakang penolakan kaum teolog atas doktrin wahdat al-wujud? Wahdat al-wujud adalah gagasan yang paling fundamental dalam ranah irfan. Dalam pandangan dunia irfan seperti dalam mazhab Ibnu Arabi, wahdat al-wujud adalah doktrin yang paling mendasar. Doktrin ini mengatakan bahwa wujud hakiki, hakikat yang real adalah tunggal dan azali dan wujud itu adalah wujud Allah Swt. Sementara wujud-wujud lain tidak real. Wujud yang lain selain Tuhan adalah tajalli (manifestasi) Allah Swt dan semua keragaman dan pluralitas itu kembali pada wujud yang hakiki itu. Wahdat al-wujud juga didukung oleh argumen-argumen filosofis yang sejatinya bermuara pada kasyf (penyingkapan) dan syuhud (penyaksian). Salah satu argumen yang digunakan untuk mendukung teori ini adalah teori ashalatul wujud (prinsipalitas wujud) dan teori isytirak maknawi wujud (ekuivokal). Menurut prinsip musytarak maknawi (ekuivokal), wujud itu adalah tunggal, sebab tidak mungkin lahir makna wujud yang berbeda-beda dari yang tunggal. Selain itu kaidah yang lain yang dipakai adalah adalah kaidah ‘Bashitul haqiqat kulla asya’ (the simplicity of everything). Dari kalangan para teolog ada sebagian yang menolak dokrin wahdat al-wujud bahkan sebagian menganggapnya berimplikasi pada penyekutuan Tuhan. Salah satu alasan mereka, karena wujud tuhan berbeda dengan wujud-wujud non-tuhan dan kesucian wujud Tuhan tidak bisa dinodai oleh wujud-wujud materi yang lain. Keberatan kaum teolog juga didukung oleh argumen-argumen yang tidak sedikit, di lain pihak sebagian kelompok yang mengaku sufi juga tidak bisa bisa menjawab kritikan kaum teolog dengan fasih (artikulatif). Mulla Shadra arsitek aliran filsafat Hikmat Muta’aliyah (Filsafat Hikmah) telah berhasil melahirkan konsep-konsep yang dapat merumuskan konsep wahdat al-wujud secara rasional dan menguraikan kerumitan-kerumitan bagi yang tidak bisa memahami dengan jelas. Lewat karya magnum opus, al-Asfar al-“Arba’ah, ia menjelaskan perihal ketunggalan mutlak Ahadiyah (unconditionally absolute); yang hakikat dan esensinya di luar pemahaman manusia (beyond all comprehensions and contemplations), dan juga wujud munbasith (extended being). Dalam penjelasan Shadra, bahwa kata wahdat (tunggal) yang kerap digunakan para urafa adalah ketunggalan pada level ahadiyah dan bukan pada level wujud munbasith. Kesalahpahaman kaum teolog juga karena kasalahan konseptual ini dan sinkretisasi antara kedua istilah ini. Comments : |
![]() |