![]() |
|
In The Name Of Allah Tuesday, February 09, 2010 |
|
|
Nilai Pertanyaan : Tanggal Posting : Wednesday, October 21, 2009Tanggal Menjawab : Wednesday, October 21, 2009 Nama : - Data Pribadi Pengirim Negara : - Pilih Kategori : Teologi --> Teologi Klasik Nama Penjawab : The Porch of Wisdom Institute Kirim kepada Teman Anda Bagaimana menjelaskan korelasi antara adanya pelbagai perbedaan dan diskriminasi dengan keadilan Allah Swt? Demikian juga, apakah malapetaka, bencana dan musibah itu harus ada? Mengapa ada seseorang yang diberi rezeki oleh Allah Swt dan yang lain tidak, yang satu diciptakan dengan indah dan rupawan dan yang lain sebaliknya (jelek). Yang satu diberi hidayah dan yang lainnya dibiarkan tersesat begitu saja? ‘Adl (keadilan) itu memiliki ragam makna, di antaranya adalah: seimbangnya bagian-bagian yang terdapat pada suatu rangkapan, menjaga hak-hak setiap orang dan menyerahkan hak kepada pemiliknya, menjaga kelayakan dan kepatutan dalam memberikan sesuatu, persamaan dan menafikan segala bentuk diskriminasi. Namun makna yang sesuai dengan pertanyaan tersebut di atas adalah persamaan dan penafian atas segala bentuk diskriminasi dan lawan dari itu adalah kezaliman dan diskriminasi. Artinya bersikap dan bertindak sama rata dan sama rasa dengan seluruh komponen masyarakat dan segala sesuatu dalam kondisi apa pun atau dengan kondisi yang sama bersikap beda dan mendua. Pengertian hak (haq) dan kelayakan (istihqâq), tentang segala sesuatu yang dinisbahkan kepada Allah Swt memilik arti berhajat dan wujud kontingen (imkan wujud) atau kesempurnaan wujud (kamâl al-wujud). Setiap entitas itu dihukumkan sebagai bukti akan kesempurnaan limpahan dan perbuatan Allah Swt, setiap orang berhak mengambil dan memperoleh apa yang menjadi haknya dan kalau nampak ada kekurangan, itu hanya karena keterbatasan kapasitasnya dalam menerima dan mengambil limpahan-Nya. Terkait dengan masalah bahwa mengapa Allah Swt menciptakan alam semesta dan segala isinya itu seperti ini dan apakah perbuatan-perbuatan Allah Swt itu dilatari oleh berbagai tujuan tertentu ataukah tidak? Dalam menjawab pertanyaan ini, Mu’tazilah berpandangan bahwa –berbeda dengan Asy’ariyah–perbuatan-perbuatan Allah Swt dilatari oleh adanya tujuan dan kemaslahatan-kemaslahatan dan berdasarkan pada pilihan yang paling baik dan maslahat, dengan demikian sistem entitas adalah sistem yang terbaik. Para fiosof Islam Syi’ah –setelah pembagian tujuan itu menjadi dua bagian; tujuan perbuatan dan tujuan pelaku– menganggap bahwa setiap perbuatan itu memiliki tujuan dan Dzat Yang Maha Suci (Allah Swt) itu adalah tujuan dari segalanya, yakni mereka menganggap bahwa Allah Swt merupakan tujuan utama di atas segala tujuan dan segala sesuatu itu berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya pula. (wa inna ilaa rabbika al muntahaa). Bentuk susunan dan sistem seluruh entitas mengikut pada esensi dan substansi keberadaan mereka sedemikian sehingga cukup dengan satu isyarah dan kehendak Ilahi, semuanya bisa terealisasi. Tidak demikian seperti ini bahwa dengan satu kehendak, ia dapat terealisasi dan dengan kehendak lain, ia menjadi sebuah sistem sehingga sebelumnya sudah ada wujud dan hakikat lain. Ikhtilaf yang ada di alam wujud ini pada dasarnya adalah perbedaan dan bukan diskriminasi dan hal yang bertolak belakang serta bertentangan dengan keadilan adalah diskriminasi tersebut, bukan perbedaan. Berdasarkan pada konsep kausalitas (sebab-akibat), perbedaan merupakan esensi setiap maujud; karena dari setiap sebab akan lahir akibat khusus dan karena sebab itu beragam maka akibat pun beragam; karena pelencengan akibat dari sebab merupakan sesuatu yang mustahil dan akibat dengan sebabnya itu harus memiliki sinkhiyah (keselarasan). Selain itu pada “perbedaan” terdapat unsur-unsur positif yang tidak ditemukan dalam “persamaan”, misalnya gerakan atau reaksi, bagiannya dan lain sebagainya. Alam ini laksana tubuh manusia dimana untuk merealisirnya secara keseluruhan, maka antara satu bagian dengan bagian yang lain itu harus menyatu. Dengan ini, untuk mewujudkan sistem terbaik maka mesti harus ada perbedaan (bukan diskriminasi) dan kalau keindahan dan kejelekan itu tidak berdampingan antara satu dengan yang lain, maka tidak akan pernah ada yang namanya keindahan atau kejelekan. Adapun mengenai bala dan malapetaka serta bencana dan musibah, harus dikatakan bahwa: pada sistem keberadaan ini terdapat berbagai macam dan bentuk bala, malapetaka dan musibah, di antaranya: Sebagian dari bala dan bencana serta musibah itu merupakan akibat ulah manusia itu sendiri; sebagian bala dan musibah itu merupakan akibat dari keserampangan dan kesembronoan orang lain. Kedua bagian ini berkaitan dengan manusia dan tidak dapat dinisbahkan kepada Allah Swt. Terkadang juga bala dan petaka itu ada untuk menghapus dosa dan pada dasarnya merupakan kaffarah (tebusan) atas dosa-dosa, musibah-musibah itu bisa menjadi sebab kesadaran dan bangkit dari kelalaian, atau terkadang untuk menguji dan kesempurnaan umat manusia dimana hal ini tidak hanya bertentangan dan kontra dengan keadilan, tapi bahkan ia merupakan substansi rahmat dan kemurahan Allah Swt. Adapun mengenai pernyataan bahwa yang satu diberi rezeki dan yang lain tidak, itu merupakan hal yang tidak benar; karena rezeki atas semua makhluk adalah tanggungjawab Allah Swt, namun bangkit atau bangun untuk mencari rezeki dan usaha untuk menemukannya, merupakan tanggungjawab hamba-hamba dan formula seluruh urusan sebab-sebab lahiriah dan bukan lahiriah itu ada pada kekuasaan Allah Swt, dan pertama Allah Swt tidak akan pernah menghalangi seseorang untuk menemukan rezekinya. Dalam riwayat-riwayat dijelaskan bahwa rezeki itu ada dua bagian: “rezeki yang mencari” dan “rezeki yang dicari”. “Rezeki yang mencari” adalah suatu rezeki dimana datang kepada orang-orang dan “rezeki yang dicari” adalah suatu rezeki yang mana orang-orang pergi mencarinya. “Rezeki yang mencari” itu berupa wujud dan eksistensi ini, umur dan lain-lain dan “rezeki yang dicari” bisa diraih dan diperoleh ketika melakukan usaha, menyiapkan segala perangkat yang diperlukan. Terkait dengan masalah hidayah dan non-hidayah (baca; kesesatan) dapat dikatakan bahwa: hidayah Allah Swt itu dibagi menjadi dua bagian, hidayah takwini dan hidayah tasyri’i , dan hidayah takwini itu juga dibagi menjadi hidayah umum dan hidayah khusus. Hidayah takwini umum, rezeki semua hamba-Nya yang mana juga mencakup orang kafir dan juga orang mukmin. Namun hidayah takwini khusus, rezeki untuk hamba-hamba-Nya yang khusus. Penyesatan (pembiaran) Allah Swt itu bukanlah hal yang ada sejak awal dan Dia yang Maha Suci tidak menyesatkan dan membiarkan seseorang itu dari sejak awal, tapi kalau seorang hamba tidak mau mengikuti seluruh perintah dan larangan (hidayah tasyri’i) Allah Swt dan malah menempuh jalan kesesatan dan dosa, maka Allah Swt akan membiarkannya berada dalam kesesatan itu dan inilah “penyesatan” (idhlâl) Ilahi. Comments : |
![]() |